
JAKARTA, PMP – Pada awal September 1993, Erros Djarot menerima penugasan Guntur Soekarnoputra, yang akrab disapa Mas Tok, untuk berjuang mendampingi adik tercintanya Megawati Soekarnoputri yang akan maju menjadi Ketua Umum PDI melalui Kongres Luar Biasa (KLB) PDI, di Asrama Haji Sukolilo Surabaya, 1-6 Desember 1993, perhelatan yang direkayasa pemerintah rezim Orde Baru untuk mendongkel Soerjadi dari posisi Ketua Umum PDI.
Erros pun bertandang ke rumah pasangan Megawati Soekarnoputri dan Taufiq Kiemas di Kebagusan, Jakarta Selatan, untuk menyampaikan penugasan Mas Tok sebelum mereka sepakat merapatkan barisan melangkah menuju medan laga KLB PDI di Surabaya.
Baca juga : Guntur Soekarnoputra Tugaskan Erros Dampingi Megawati Melawan Orde Baru (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 1)
Naskah berikut dinukil dari buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1 yang dirilis pada September 2025 :
Sore harinya saya sengaja mengajak Haryanto Taslam untuk menemani saya menuju Kebagusan, Jakarta Selatan, rumah kediaman Mbak Mega dan Mas Taufiq Kiemas. Sebelumnya, ada orang dekat Mbak Mega dan Mas Taufiq yang sudah membisikkan kepada mereka bahwa saya akan datang menemui mereka sore itu.
Kami pun, mengendarai mobil menuju ke kediaman Mbak Mega di Kebagusan. Hanya kami bertiga: saya, Haryanto, dan Bustamam, sopir yang ikut saya sejak pembuatan film Tjoet Nja’ Dhien, hingga saya pulang ke Jakarta tetap setia mendampingi. Saya sengaja datang bertiga, karena Bustamam yang orang Aceh, selain buta aksara ia tidak paham dunia politik. Jadi amanlah. Sementara Haryanto sengaja saya ajak untuk menjadi saksi serta mencatat semua yang akan terjadi di meja pertemuan.
Megawati Tak Nyaman dengan Orang Belum Dikenal
Ketika mobil kami memasuki halaman rumah Kebagusan, saya melihat suasana rumah dan sekitar halamannya, tidak mencerminkan rumah mewah atau rumah milik OKB atau orang kaya baru. Sederhana tapi cukup bermarwah, sebuah rumah dari keluarga yang layak untuk dihormati. Pohon rindang tampak mengelilingi hampir setiap sudut halaman rumah. Ketika mobil kami semakin mendekati bangunan rumah tempat tinggal keluarga Kiemas, beberapa anjing penjaga rumah ramai menggonggong menyambut kedatangan kami. Seperti permintaan saya melalui orang dekat Mbak Mega dan Mas Taufiq, rumah mereka dalam keadaan sepi. Saya sengaja meminta untuk tidak ada tamu dan orang lain kecuali Mbak Mega dan Mas Taufiq.
Turun dari mobil, kami langsung menuju ruang belakang. Mas Taufiq, seperti biasa, menyambut kami dengan ramah dan hangat. Sebetulnya secara pribadi, saya sudah cukup sering bertemu Mas Taufiq, ketika mereka masih bertempat tinggal di Cempaka Putih, Jakarta Timur, terlebih lagi ketika sama-sama dalam kesibukan di Kongres III PDI di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada tahun 1986.
Mbak Mega, sore itu seperti biasa, mengenakan baju sederhana. Tetap tanpa makeup dengan rambut panjangnya yang ikal terurai. Ketika melihat saya masuk melewati pintu teras belakang, Mbak Mega hanya melempar sedikit senyum. Kami bersalaman dan Mbak Mega pun mempersilakan saya dan Haryanto Taslam duduk di sofa ruang belakang. Namun belum sempat kami duduk, Mas Taufiq memanggil Haryanto Taslam untuk masuk ke ruangan dalam bersamanya. Mungkin mereka sengaja menyiapkan meja yang akan digunakan untuk pertemuan.

Dari wajah dan lirikan mata Mbak Mega, tampak sepertinya ia masih ingin tahu siapa orang baru yang datang bersama saya itu. Menangkap hal itu lewat bahasa tubuh Mbak Mega yang tampak kurang nyaman, saya pun mencoba membuka pembicaraan.
“Sorry ya Mbak, saya datang ngajak teman. Dia orang kepercayaan saya Mbak, anak GMNI juga.” Sengaja saya mencoba menjelaskan siapa Haryanto Taslam, karena Mbak Mega sangat terkenal tidak mudah menerima orang yang belum dikenal berkunjung ke rumahnya.
“Oh, Mbak kira kamu dateng sama Guruh?”
“Guruh lagi sibuk terus ngurusin anak-anak Swara Mahardika, Mbak.”
“Bukannya kamu juga?”
“Saya sekarang sibuk ngurusin DëTIK, Mbak. Guruh kan sibuk ngurusi tari menari, sedang mempersiapkan pertunjukan Mbak. Saya kan gak bisa nari.”
Sesama Alumni Tahanan Politik Orde Baru
Sebelum pembicaraan berlanjut, Mas Taufiq datang dan meminta kami pindah duduk di meja pertemuan. Sebuah meja bundar terbuat dari kayu jati berukuran sekitar 1,5 meter. Meja pertemuan itu berada di ruang tengah, sebuah ruangan cukup lebar, namun sederhana dan tertata apik.
Mas Taufiq langsung mengambil tempat duduk bersandingan dengan Mbak Mega. Sementara saya dan Haryanto, mengambil tempat duduk yang berhadapan dengan keduanya. Setelah Mas Taufiq menawarkan minum apa yang saya kehendaki, dan saya meminta untuk tidak merepotkannya, saya pun berinisiatif memulai percakapan dalam pertemuan di sore itu.
“Terima kasih ya, Mas Taufiq dan Mbak Mega sudah mau meluangkan waktu buat bertemu saya dan Haryanto Taslam.”
“Ah, Mas Erros ini kayak orang lain saja,” potong Mas Taufiq.
“Jangan panggil saya mas dong, Erros saja, Mas.” Saya segera membalas sapa Mas Taufiq yang sangat bersahabat. Benar bila banyak orang mengatakan bahwa Mas Taufiq adalah sosok yang hangat dan mudah bergaul.
“Hehehe…, pan biar Mas Taufiq orang Sumatera, tahu sopan juga. Tapi okelah, ada berita apa nih, tumben Erros mau dateng?”
“Ah, sebenarnya sudah sering saya mau main ke sini. Tapi Mas kan juga orang sibuk. Apa lagi belakangan, banyak tamu mestinya.”
“Erros juga sibuk kan, ngurusin penerbitan apa itu?”
“DëTIK, Mas.”
“Iya DëTIK, Mas Taufiq juga ngikutin. Bagus itu.”
“Terima kasih Mas.”
“Mas Haryanto juga ikutan sibuk di DëTIK?’’ Pertanyaan ditujukan ke Haryanto.
“Iya Mas, saya ditugasin Mas Erros urusan pemasaran,” kata Haryanto menjawab pertanyaan Mas Taufiq.
“Oh begitu.” Sebelum Mas Taufiq melanjutkan pembicaraan, ia sempat melirik ke arah Mbak Mega yang hanya duduk manis mengikuti percakapan.
“Oh iya ini Mah, Haryanto ini sempat seperti Papah, alumni tahanan politik di penjara Orde Baru.”
Sepertinya Mas Taufiq memahami betul bagaimana Mbak Mega bersikap, bila harus duduk bersama di satu meja dengan orang yang belum terlalu ia kenal.
“Kamu dulu Haryanto, sempat masuk berapa lama?”
“Cuman beberapa bulan, Mas.”
Mendengar penjelasan dan percakapan akrab antara Mas Taufiq dan Haryanto, barulah wajah Mbak Mega mulai terlihat rileks.
“Jadi ada apa ini Erros? Kalian ke sini bukan urusan DëTIK, pan?” katanya sambil melirik Mbak Mega, “Begitu kan ya, Mah?
“Sepertinya begitu,” jawab Mbak Mega datar dengan wajahnya yang tetap cool.
Operasional Kerja Politik Rp150 Juta/Bulan
Haryanto memberi isyarat agar saya langsung menyampaikan misi kedatangan kami pada sore itu.
“Begini Mas Taufiq dan Mbak Mega, kemarin saya bicara panjang sama Mas Tok, sehubungan dengan persiapan Mbak Mega maju sebagai calon Ketua Umum PDI pada Kongres Luar Biasa atau KLB di Surabaya, Desember mendatang.”
Mendengar ucapan saya, Mbak Mega yang tersenyum kecil langsung menyahut, “Oh, tumben kakakku yang satu ini ngurusin soal PDI.” Celetukan Mbak Mega disertai senyum kecilnya yang penuh arti.
Baca juga : Guntur Dibujuk Jadi Menteri Muda Urusan Pemuda Kabinet Soeharto (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 2)
Mas Taufiq pun menimpali, “Iya Erros, ini berita baru buat Mas Taufiq juga. Kalo Erros yang bicara soal PDI, Mas tahu dan gak kaget. Sejak Kongres PDI III di Asrama Haji Pondok Gede, Mas tahu kamu sudah ngurusin PDI. Dan sejak tahun 1980-an awal, kamu sibuk di Litbang PDI, di Kantor PDI Jalan Diponegoro.”
Benar apa yang dikatakan Mas Taufiq. Di Kongres III PDI, saya sering bertemu Mas Taufiq. Saya pun sempat bertamu ke rumah Mas Taufiq dan Mbak Mega, bicara soal politik ketika mereka masih tinggal di rumah Cempaka Putih.
Mas Taufiq pun tahu, saya ikut aktif mendirikan Litbang PDI bersama Aberson Marle Sihaloho, sahabat Mas Taufiq, dan Tarto Sudiro, sahabat Mbak Mega, menantu Jenderal Suharyo, suami Mbak Hera yang juga sahabat karib Mbak Mega. Jadi berbiacara soal politik dan bertemu Mas Taufiq, bukan sesuatu yang baru bagi saya.
Di komunitas alumni GMNI, Mas Taufiq tergolong senior. Banyak kawan dan dikenal sebagai pemain politik yang lincah. Berbicara dengannya, saya harus terbuka. Walau alasan apa sehingga Mas Tok menugaskan saya untuk mendampingi Mbak Mega, tidak mungkin saya buka sepenuhnya kepada Mas Taufiq, karena hubungan Mas Taufiq dengan Mas Guntur tidak selalu berjalan mulus.
“Begini Mas Taufiq, sejak bermunculan dukungan agar Mbak Mega maju sebagai calon Ketua Umum PDI pada KLB nanti, Mas Tok meminta saya….”
“Minta apa Erros?” potong Mas Taufiq ingin tahu.
“Mas Tok minta agar saya dengan pasukan DëTIK mendampingi dan membantu Mbak Mega.”
“Serius itu, Erros?”
”Silakan Mas cek sendirilah.”
“Bagaimana Mah?” Mas Taufik minta pendapat istri tercintanya.
“Dengar saja dulu,“ jawab Mbak Mega singkat, tegas, terkesan memberi arahan.
“Okelah, terus gimana Erros?”
“Justru yang saya mau tahu, gimana keseriusan Mas Taufiq?”
“Kurang serius apa lagi? Justru Mas Taufiq yang seharusnya bertanya pada kalian.”
“Begini Mas, saya bicara terbuka ya Mas, agak detail, jangan marah ya Mas.”
“Ya harus terbuka dong, pan kerja beginian, di antara kita harus saling terbuka.”
“Terima kasih Mas. Izinkan saya menanyakan sesuatu yang agak sensitif. Soal finansial.”
Mendengar ucapan saya, Mas Taufiq tampak sedikit tak nyaman. Ketika Mas Taufiq melirik ke arah Mbak Mega, Mbak Mega membuka suara. “Ya tanyakan saja, teruskan Erros,” sahut Mbak Mega.
‘’Maaf ya Mbak, apa Mas dan Mbak sudah ada persiapan dana untuk melakukan kerja politik ke depan? Setidaknya persiapan menjelang dan pasca-KLB?”
“Ya ada lah,” Mas Taufik menjawab tegas. “Tapi kalo miliaran ya nggaklah, dari mana? Pan Erros tahu, kami ini gimana?”
“Iyalah Mas, setidaknya uang persiapan operasional minimum, sekitar Rp100 juta hingga Rp150 juta per bulan?” Saya ajukan jumlah minimum yang diperlukan sebagai dana operasional terbatas.
“Ya kalau jumlah segitu ada lah,” katanya.
“Jangan marah ya, kalau boleh tahu dari mana?”
“Hey, Erros pan tahu kami punya pom bensin. Dari dua pom bensin saja sudah tertutupi jumlah yang Erros sebutkan.”
Rumor Bermain-Main dengan BAKIN
“Alhamdulillah, tapi ada satu lagi yang harus saya sampaikan, Mas. Dan rada nggak enak ini, Mas.”
“Kalo yang enak-enak gak perlu kamu tanyain Erros.”
Maaf lagi sebelumnya. Begini Mas, setelah saya dan teman-teman nanti serius dengan sepenuh jiwa dan pikiran berdiri di belakang Mbak Mega, saya…”
Saya terhenti sejenak menarik nafas dalam, kemudian melanjutkan, “Terus terang Mas, saya nggak mau dengar lagi Mas Taufiq bermain-main dengan BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara sekarang BIN).”
“Ah, kamu ini, mau saja dengerin kabar bohong murahan kaya begitu.”
“Maaf ya Mas, kita sama-sama lama di lapangan. Ini benar-benar permintaan saya pribadi. Setidaknya permintaan ini sudah saya sampaikan.”
“Gak usah takut Erros, nanti Mbak sendiri yang jewer dia,” tiba-tiba Mbak Mega nyeletuk.
“Rasanya kok gak cukup cuman dijewer Mbak,” saya pun menimpali.
Pembicaraan pun tidak berlanjut. Karena Mas Taufiq sangat mengenal saya bahwa di barisan ideolog kaum Banteng, saya termasuk dalam kelompok garis keras. Namun pertemuan itu berjalan lancar dan berakhir tanpa ganjalan apapun karena Mas Taufiq bukan tipe orang yang cepat tersinggung, dan dia mau menerima semua kritik maupun percakapan pedas dengan baik. Kami pun berjabat hangat dan berlanjut dengan percakapan di luar masalah inti penugasan yang diberikan Mas Guntur kepada saya. Perasaan saya sangat lega. Dari wajah Haryanto Taslam juga nampak bahwa dirinya sangat bergembira.
Namun dalam perjalanan pulang, Haryanto sempat mengatakan kepada saya bahwa tadi dalam pertemuan, saya terlalu keras saat mengajukan pertanyaan kepada Mas Taufiq. Saya pun menjelaskan, bahwa bagi saya lebih baik terbuka dan jelas di awal, daripada buram di kemudian hari. Perjuangan merawat keutuhan sikap dan langkah di garis perjuangan ideologi Marhaenisme, memerlukan kejelasan dan ketegasan arah.
“Ingat Har, kekalahan kita selalu berawal dari pengkhianatan orang-orang kita sendiri. Kaum pseudo Marhaenis!”
Atas pernyataan sikap saya ini, Haryanto tidak bisa bicara lain kecuali menganggukkan kepala berkali-kali.(Kukuh Bhimo Nugroho)
Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.












