
*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.
JAKARTA, PMP – Erros Djarot mendampingi Megawati Soekarnoputri melawan rezim Orde Baru bermula dari penugasan yang diberikan oleh Guntur Soekarnoputra, putra sulung Presiden Soekarno yang juga senior Erros di GMNI, dua bulan menjelang digelarnya Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, yang digelar awal Desember 1993.
Awal September 1993, ruang redaksi tabloid politik DëTIK di bilangan Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, dipenuhi awak redaksi dengan kesibukan masing-masing, menulis atau mengedit berita menjelang deadline. Mereka harus mempersiapkan sajian berita yang akan diterbitkan pada hari Selasa pekan itu.
Sugeng Waluyo Djarot alias Erros Djarot, selaku Pemimpin Redaksi Tabloid DëTIK, juga sibuk memelototi berbagai tulisan yang akan dicetak untuk menghindari atau mencegah lolosnya frasa atau kalimat yang membuat gusar pemerintahan rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.
Tabloid DëTIK terbit mingguan. Di luar dugaan, hanya dalam waktu enam bulan sejak terbit, oplahnya tiap terbit lebih dari 450 ribu eksemplar. Begitu melambung cepat peminat DëTIK, karena rata-rata pembaca DëTIK adalah orang-orang kritis, yang masa itu sudah jenuh terhadap rezim Orde Baru yang telah berkuasa selama tiga dekade. Sajian dalam bentuk analisa dan wawancara telanjang yang disuguhkan DëTIK mewakili harapan mereka akan terjadinya perubahan.
Luapan semangat para redaktur DëTIK menurunkan berita dan analisa yang membangunkan kesadaran untuk melawan ketidakadilan rezim otoriter Orde Baru, merupakan magnet yang membangunkan hubungan dan ikatan emosional antara DëTIK dengan pembacanya.
Baca juga : Erros Djarot Rilis Autobiografi, Raih Penghargaan Rekor MURI
Didorong semangat untuk tetap memberi bacaan merdeka yang memerdekakan pikiran pembacanya, tabloid DëTIK selalu menurunkan berita analisa yang tajam mengkritisi rezim Orde Baru. Dalam menentukan politik keredaksian, berita dan analisa yang tajam dan kritis ini menempati prioritas utama untuk didahulukan sebagai sajian kepada pembaca. Sehingga setiap jelang waktu deadline, kegiatan super sibuk seperti bersiap demo turun ke jalan, merupakan suasana khas DëTIK yang mayoritas wartawannya merupakan para aktivis kampus.
Banyak hal sensitif yang harus dikaji dengan berbagai pertimbangan, sebelum ditulis sebagai berita dan analisa di setiap penerbitan. Maklum, di masa itu, pengawasan dan gunting sensor rezim Orde Baru begitu tajam. Sedikit menyinggung hal-hal yang oleh Harmoko, Menteri Penerangan saat itu, dinilai merugikan pemerintah dan keluarga Cendana, langsung disatroni petugas Menpen Harmoko. Hasilnya, ditegur dan diperingatkan dengan keras.
Ada dua nama di kalangan jurnalis saat itu yang diposisikan sebagai “hantu” dan “algojo politik” yang menjadi musuh utama kebebasan pers. Pertama adalah sosok Harmoko, sebagai Menpen Orba, dan momok yang lain adalah institusi BAKIN, Badan Koordinasi Intelijen Negara, sekarang BIN.
“Siang itu, telepon di meja kerja maupun telepon genggam saya Ericsson Satellite, berdering berkali-kali, silih berganti. Saya membiarkannya. Sebagai penanggungjawab sekaligus acting Pemimpin Redaksi tabloid politik DëTIK, saya saat itu tengah sibuk mengerjakan editing dari sejumlah tulisan yang bakal diterbitkan,” tulis Erros Djarot dalam buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1.
Baca juga : Erros Djarot Beberkan Strateginya Jadikan Megawati Wapres Lewat Autobiografi 2 dan 3

Tugas Memenangkan Mega di KLB PDI di Asrama Haji Sukolilo Surabaya
Baru ketika bunyi dering kedua telepon itu sudah sampai pada titik batas sangat mengganggu, telepon kantor saya angkat walau dengan sangat terpaksa untuk menghentikan gangguan bunyi dering telepon.
Dengan rasa setengah kesal, setelah saya angkat, langsung saja saya coba untuk membuka percakapan. Suara saya buat sedemikian rupa agar terdengar bersahabat oleh penelepon. Tapi yang mengejutkan saat itu, baru satu kalimat sapa saya suarakan sebagai kata pembuka, sang penelepon langsung nyerocos.
“Kamu ini di mana sih? Susah amat ditelepon, kayak menteri aja!”
Mendengar suara penelepon, saya sangat kaget. Hati dan pikiran langsung dipenuhi perasaan bersalah. Suara penelepon yang sangat akrab di telinga ini adalah suara dari senior saya. Seseorang yang juga sudah saya anggap seperti kakak sendiri. Ditambah lagi, dia mentor politik saya sejak belasan tahun, bahkan hampir selama dua dekade berjalan. Orang mengenalnya sebagai Guntur Soekarnoputra, sementara keluarga dan para sahabat memanggilnya dengan nama khusus, Mas Tok. Putra sulung “guru besar” kami, Bung Karno.
“Aduh sori Mas, deadline nih, tengah malam nanti kan DëTIK naik cetak Mas.” Saya mencoba menjelaskan dan menenangkannya.
”Iyalah, saya tahu. Tapi tugas penting jangan dilupain dong!”
“Tugas apa, Mas?” Sedikit penasaran saya bertanya.
”Kamu kan jurnalis, masak gak tahu?”
“Soal berita tentang dana revolusi yang kacau itu?”
“Sejak kapan saya ngurusin soal itu? Bukan itulah. Itu Si Adis, Mas Tok dengar dicalonkan cabang-cabang. Beritanya sih sampai seratus cabang lebih minta Adis maju sebagai Ketua Umum PDI (KLB PDI di Asrama Haji Sukolilo Surabaya).” Adis adalah panggilan akrab keluarga untuk Megawati.
“Oh soal itu, kenapa Mas?”
“Ini ada tugas khusus. Kamu dampingi dia!”
“Hah…?” Seperti tersambar petir di siang hari, sungguh ucapannya di luar dugaan.
“Kamu kan yang sudah lebih dulu tahu soal PDI.”
Mas Tok pun mengingatkan bahwa saya juga pernah ikut di Kongres III PDI yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, tahun 1986.
“Soal Si Adis mau maju, ini pasti Taufiq (Taufiq Kiemas-suami Megawati) yang bawa dia ke partai. Makanya Ros, kamu harus dampingi!”
Permintaannya yang mengejutkan ini membuat saya terpaksa berdalih. “Lho, gimana sih, kan Mas yang dulu menyindir, ngapain sih kamu ngurusin PDI? Apa gak ada urusan lain yang lebih penting? Begitu juga si Rachmawati. Makanya Mas, sejak Mas dan Rachma ngomong nyinyir begitu, sudah lama saya nggak lagi terlalu aktif di PDI, juga di Litbang PDI. Apalagi pasca-Kongres III, Soerjadi kan yang mimpin?”
“Tapi sekarang lain urusannya, ini menyangkut si Adis. Dia maju kan membawa nama keluarga, Ros! Kamu dampingin dia!”
“Lho kan teman-teman Mas banyak di sana, mereka pasti jagain Adis-lah.”
“Aku kan tahu siapa mereka Ros. Pokoknya kamu. Kamu yang Mas Tok tugasin!”
“Serius ini, Mas?’’
“Sudah jangan cari alasan macem-macem, Mas Tok minta kamu yang dampingin Adis, titik!”
Jawaban Mas Tok yang begitu tegas, membuat saya tak mempunyai pilihan lain kecuali harus menerima permintaannya. Saya terima sebagai perintah seorang senior kepada juniornya. Dalam kehidupan saya sebagai bagian dari keluarga besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Mas Tok adalah satu-satunya senior yang dalam sirkel kegiatan politik kaum Banteng Marhaenis, selalu saya tempatkan sebagai senior, atasan, sekaligus komandan saya. Sehingga tugas dari senior yang satu ini, menjadi wajib saya terima dan saya jalankan dengan baik.
Berita pencalonan Megawati sebagai Ketua Umum PDI pada KLB PDI di Surabaya oleh seratus lebih cabang pendukungnya, semakin gencar diberitakan oleh sejumlah media massa nasional maupun daerah. Realita ini membuat saya semakin harus bersungguh-sungguh menyiapkan kerja menyukseskan Megawati untuk menjadi ketua umum baru.
Modal menarik dari calon yang ditawarkan ke publik; ia perempuan, berada dalam kehidupan yang penuh derita dan tekanan, dan di atas itu semua ia adalah putri Bung Karno.
Dari bekal materi yang saya miliki, keyakinan untuk bisa memenangkan pertarungan merebut kursi nomor satu PDI, menebalkan keyakinan saya bahwa dengan kerja keras yang cerdas, PDI for Mega bisa diwujudkan. (Kukuh Bhimo Nugroho)












