HeadlineIndeksSpotlight

Cak Roeslan: Gosok Megawati Jadi Permata Berkilau yang Disukai Rakyat (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 7)

×

Cak Roeslan: Gosok Megawati Jadi Permata Berkilau yang Disukai Rakyat (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 7)

Sebarkan artikel ini
Presiden Soekarno dan Roeslan Abdulgani (kanan) usai salat saat kunjungan ke New York pada Mei 1956, yang merupakan rangkaian lawatan kenegaraan perdana Bung Karno ke Amerika Serikat atas undangan resmi Presiden Dwight D. Eisenhower. (Istimewa)

JAKARTA, PMP – Erros Djarot menemui Roeslan Abdulgani, kader senior Banteng untuk meminta masukan politik, setelah penugasan Guntur mendampingi Megawati Soekarnoputri melawan rezim Orde Baru Soeharto pada awal September 1993.

Baca juga : Guntur Tugaskan Erros Dampingi Megawati Soekarnoputri Melawan Orde Baru (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 1)

Alasan mengapa menemui Cak Roeslan, panggilan akrab Roeslan Abdulgani, dipaparkan Erros Djarot dalam Autobiografi Erros Djarot jilid 1 yang terbit September 2025. Berikut kutipan naskahnya :

Setelah menemui mertua (Ilen Surianegara yang oleh Erros dijadikan mentor politik), langkah saya ke depan terasa semakin ringan, namun kian mantap dalam menentukan cara, strategi, pilihan ruang dan waktu, untuk mencapai tujuan. Untuk melengkapi, saya masih merasa perlu menemui sejumlah senior dan sesepuh yang saya yakini dapat lebih memantapkan langkah perjuangan ke depan.

Banyak nama bermunculan di benak saya, di antaranya Pak Dahlan Ranumihardja, Soekarnois tulen, tokoh dan pendiri Himpunan Mahasiswa Islam. Kemudian Om Kiyuk (Soebadio Sastrosatomo), Om Sitor Situmorang, penyair Marhaenis dan senior yang sering memarahi saya. Juga Bung John Lumingkewas, tokoh senior GMNI, dan senior-senior lain. Akhirnya saya memilih untuk kali pertama ini hanya menemui Cak Roeslan Abdulgani.

Roeslan Abdulgani adalah senior dan tokoh kontroversial barisan Banteng yang pernah menjadi idola saya semasa awal aktif sebagai kader Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI). Sosok politisi yang saya anggap bisa membuat saya berada di belakangnya sebagai pengikut, ketika menempatkan Cak Roeslan sebagai pencerah yang perlu saya dengar. Atau saya berdiri di hadapannya sebagai “lawan”, ketika Cak Roeslan bergandengtangan dengan rezim Orde Baru.

Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, dan jilid 3. (Budaya Cerdas)

Berani Mengkritiknya Secara Terbuka

Keesokan harinya, saya berusaha menemui Cak Roeslan di kediamannya yang terletak di Jalan Diponegoro No. 11, Menteng, Jakarta Pusat. Saat itu saya kurang beruntung karena menurut sekertaris pribadinya, Rohana, Cak Roeslan tengah dalam keadaan kurang sehat.

Baca Juga :  Gubernur Ganjar: Lagu Erros Beri Semangat Badai Corona Pasti Berlalu

Tapi kebiasaan saya yang dia kenal, saya akan selalu berusaha dengan cara apapun harus bisa bertemu. Rupanya Cak Roeslan ingat hal ini, dan beliau memberi waktu pada saya untuk bertemu walau sebentar. Mungkin kedekatan saya dengan keluarga Bung Karno yang mempermudah setiap kali ingin sowan beliau. Beliau selalu memberi saya waktu. Apalagi bila menyangkut urusan politik, Cak Roeslan sangat welcome.

Salah satu yang ia suka dari saya, karena saya dianggap sebagai salah satu kader yang berani mengkritiknya secara terbuka. Cak Roeslan justru tidak suka kader-kadernya lembek dan bermental penjilat. Saya lega ketika sekertaris pribadinya menelepon saya untuk menyampaikan pesan.

“Tapi jangan lama-lama ya Mas Erros, Bapak sedang gerah, kurang sehat.”

“Aku mung sediluk Mbak.” Saya cuman sebentar Mbak, soalnya penting.

“Iya tadi Bapak juga bilang; wes kon teko wae, pasti ono sing penting.”

“Jam berapa nanti, Mbak?”

“Setelah jam makan siang saja, Mas.”

Saya iyakan dan saya pun bersiap agar setelah makan siang, segera langsung menuju kediamannya.

Sammen Bundeling Von Alle Revolutionaire Krachten

Sampai di kediaman beliau, saya disambut oleh Rohana. Rumah pejabat tinggi negara pastilah besar dengan halaman yang cukup luas. Tapi sebagaimana rumah para pejabat zaman dulu, walau fisiknya besar berdiri di pinggir jalan utama Menteng, Jalan Diponegoro, kesederhanaan dan aura kewibawaan sang penghuni, masih sangat terasakan.

Ketika saya memasuki pintu ruang depan rumahnya, Cak Roeslan sudah duduk di sebuah kursi yang menyanding sebuah meja kecil, di mana di sebelahnya ada sebuah kursi duduk yang sama, berada dalam keadaan kosong. Di situlah tempat saya duduk setiap sowan berbincang dengan beliau.

Wajah Cak Roeslan, walau tampak agak lelah, tapi senyumnya tetap lebar menyambut kedatangan saya.

“Saya tadi diberi tahu kalau Cak Roeslan sedang gak enak badan. Sepurane Cak, ngganggu.”

Baca Juga :  Rudi P Goni: Prof Nurdin Abdullah Seperti Jokowi, Hidupnya Kerja, Kerja dan Kerja

“Bioso iki penyakite wong tuwek, hanya sedikit nggreges. Ono opo iki, sepertinya ada yang penting?”

“Begini Cak, soal Mbak Mega.”

Selanjutnya saya pun menceritakan tentang tugas dari Mas Tok, dan bagaimana ketika saya menemui Mbak Mega dan Mas Taufiq. Sepanjang saya menceritakan kepada Cak Roeslan semuanya secara rinci, beliau mendengarkan dengan serius walau sesekali meminta saya mengulang beberapa kata yang terluput dari pendengarannya.

Terjadi sedikit tanya jawab, tapi yang menarik adalah pesan dari beliau yang saya catat, dan saya jadikan program kerja saya dalam menjalankan tugas yang dipercayakan Mas Tok kepada saya untuk mendampingi Mbak Mega.

“Aku sudah denger semua. Sekarang yang kamu harus lakukan adalah mengerjakan sammen bundeling von alle revolutionaire krachten. Bangun ikatan dari seluruh kekuatan revolusioner yang ada di negeri ini. Seluruhnya, jangan dipilih-pilih mereka dari kelompok dan partai apa, tapi semua kekuatan revolusioner harus kamu satukan.

Bangun perlawanan bersama mereka. Nek iso Bung, ojo mung tekan Ketua Umum PDI, tapi jadikan Mega Presiden RI. Waktunya cukup kondusif. Gosok dia hingga menjadi batu permata yang berkilau, yang mahal, menawan, berwibawa, dan disukai rakyat. Itu tugas kamu. Menantunya Ilen pasti tahu apa yang saya maksud, tanya dia kalau kurang paham!”

Marhaenisme Akan Dengan Mudah Dihabisi

Pertemuan singkat saya, saya fokuskan pada apa yang Cak Roeslan pesankan sebagai arahan seorang senior yang sangat berpengalaman, dan seorang pemikir yang perlu saya dengar pendapat dan arahannya, walaupun pernah saya berselisih paham ketika berdebat dengan Cak Roeslan seputar pemahaman dan pengejawantahan Pancasila.

Kedudukannya sebaga Ketua BP7 atau Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, sering mengganggu saya dan membuat saya pernah mengambil jarak politik dan ideologi dengan beliau. Saya pernah bersitegang dengannya, menyoal interpretasi tunggal terhadap Pancasila yang sepenuhnya menjadi monopoli penguasa Orde Baru.

Baca Juga :  Perancis Contek Indonesia, Presiden Muda Pecinta Wanita Lebih Tua

Berkolaborasinya dengan rezim Orde Baru merupakan hal yang saya tidak setujui. Tapi ada ucapan penjelasannya yang kemudian saya renungkan, dan selanjutnya mampu melunakkan sikap saya.

“Suatu hari kamu akan mengerti Bung. Kalau waktu itu saya tidak berada di sana, Marhaenisme akan dengan mudah dihabisi hingga tak berbekas dan tak meninggalkan jejak. Mertuamu, Ilen, tahu sikap dan siapa saya.”

Lama penjelasannya itu saya renungkan, saya analisa dan pelajari, sambil terus bertukar pikiran dengan mertua. Saya pun semakin menghayati dengan apa yang dimaksud dengan kata-kata; “Terhadap kawanmu kamu harus dekat, tapi terhadap lawanmu jangan selalu bersikap menjauh, bahkan bila perlu mendekat dan lebih dekat.”

Ditambah lagi saya teringat dialog antara Teuku Umar dan Tjoet Nja’ Dhien ketika Tjoet Nja’ sangat tidak setuju dan sangat menentang mendekatnya Teuku Umar kepada pihak Belanda. Kalimat pendek yang saya maknai sebagai sebuah langkah strategi diwakili oleh ucapan Teuku Umar dalam menjawab kebimbangan Tjoet Nja’ Dhien. “Tjoet, Itu semua hanya strategi. Jiwa, nyawa, dan ragaku, hanya untuk Tanah Rencong yang aku cintai!”

Penggalan berbagai peristiwa yang saya anggap pantas saya jadikan kompas penyikapan dan strategi ke depan dalam kerja politik mendampingi Mbak Mega, menjadi catatan penting yang saya benamkam dalam hati dan pikiran saya, saat menyusun kekuatan gerakan perlawan ke depan melawan rezim Orde Baru. Dan anjuran Cak Roeslan untuk melakukan samen bundeling von alle revolutionaire krachten menjadi program mendesak yang harus segera saya lakukan.(Kukuh Bhimo Nugroho)

*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.