EkbisHeadlineIndeksIndustri

RI Pusat Fashion Islami, BI: Potensi Strategis bagi Pengembangan Ekonomi Syariah

×

RI Pusat Fashion Islami, BI: Potensi Strategis bagi Pengembangan Ekonomi Syariah

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, PMP –  Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Muhamad Nur mengatakan tren positif yang terjadi pada pertumbuhan industri fashion Islami Indonesia yang menempati posisi pertama dunia bisa menjadi bagian penting dari pengembangan strategi ekonomi syariah.

“Tren ini tak hanya menjadi kebanggan nasional naum bisa dimanfaatkan untuk strategi pengembangan ekonomi syariah yang kini pangsa pasaranya25%, melampaui laju ekonomi nasional,” kata  Muhamad Nur saat membuka Talkshow III bertema ‘Halal Modest Fashion: Sinergi Industri, Kreatifitas dan Kesadaran Konsumen’  pada  kegiatan Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2025 di Masjid al-Akbar Surabaya, Sabtu (13/9/2025).

Nur menjabarkan secara global, pangsa Indonesia dalam industri fashion halal masih relatif kecil, berkisar 1-2%, padahal potensi yang ada sangat besar. Hal ini didorong oleh proyeksi populasi muslim dunia yang diperkirakan mencapai 2,8 miliar jiwa di 2050. Dengan jumlah itu, konsumsi produk halal, termasuk fashion, diprediksi akan menembus USD3,36 triliun pada 2028.

“Angka tersebut merupakan peluang besar yang tidak boleh dilewatkan. Indonesia harus mampu mengoptimalkan peranannya, baik sebagai produsen maupun sebagai trendsetter global,” tandasnya.

Kolaborasi hulu-hilir yang melibatkan desainer, inovator muda, hingga lembaga keuangan seperti Bank Indonesia dibutuhkan agar industri fashion halal semakin kuat. Setiap tahun, BI mencatat munculnya mitra potensial dari kalangan anak muda kreatif yang berhasil menghadirkan produk kompetitif.

Baca Juga :  Rupiah Selasa Pagi di Level Rp16.781 per Dolar AS

“Jawa Barat misalnya, melalui fasilitasi BI kerja sama dengan sekolah mode di Jakarta melahirkan desainer-desainer baru yang tidak hanya berdaya saing lokal, tetapi juga mampu tampil di panggung internasional. Beberapa di antaranya bahkan telah memperkenalkan karya di Prancis, pusat mode dunia,” imbuhnya.

Nur mengatakan pengembangan fashion halal tidak boleh hanya sebatas penyediaan bahan, tetapi juga harus menghasilkan produk siap pakai yang berkualitas. Oleh karena itu, promosi secara gencar terus dilakukan, baik di dalam negeri maupun ke berbagai negara muslim.

Ada tiga poin utama dalam pengembangan fashion halal. Pertama, pentingnya edukasi bagi pelaku industri agar mengedepankan keberlanjutan dalam produksi. Kedua, pemahaman yang komprehensif tentang konsep halal, mencakup bahan, proses, hingga produk akhir. Ketiga, pemanfaatan peluang bisnis untuk memperluas pasar domestik dan global.

Founder & CEO KaIND, Melie Indarto menyebut  industri modest fashion kini telah berkembang menjadi bagian integral dari ekonomi global. Dengan nilai industri ini pada 2025 diproyeksikan mencapai USD 2,8 triliun.

Baca Juga :  BI Sebut FESyar Jawa 2025 Dukung Jatim Gerbang Baru Nusantara

“Ini bukan hanya tentang gaya hidup, tetapi juga tentang strategi ekonomi global yang memiliki dampak luar biasa. Tantangannya, adalah bagaimana membawa modest fashion ke arah yang stylish, inklusif, dan adaptif terhadap tren dunia.,” ungkapnya dalam sesi talkshow tersebut.

Secara global, kemajuan modest fashion diukur melalui empat indikator utama: financial, awareness, social, dan innovation. Berkat sinergi pemerintah, Bank Indonesia, dan pelaku industri, Indonesia berhasil naik ke peringkat pertama dunia pada 2025, setelah sebelumnya di posisi ketiga.

Melie menekankan bahwa prinsip halal, etika, dan keberlanjutan harus menjadi fondasi utama industri. Praktik ini telah ditunjukkan oleh KaIND, yang sejak 2017 berkomitmen menggunakan material alami, proses circular production untuk minim limbah, mengangkat kearifan lokal, serta mengikuti tren global.

KaIND tidak hanya menghasilkan produk busana siap pakai, tetapi juga membangun ekosistem industri yang melibatkan ribuan petani lokal. Inovasi terbaru mengembangkan benang dari serat rami, nanas, dan katun, serta memanfaatkan sutra etis tanpa membunuh pupa. Strategi ini tidak hanya menekankan keberlanjutan, tetapi juga memberi dampak sosial-ekonomi yang luas.

Baca Juga :  Pengguna QRIS Capai 50 Juta Hanya dalam Kurun 5 Tahun

Dari pelaku brand muda, selebriti dan entrepreneur Natasha Rizky, sekaligus pendiri brand modest fashion Alur Cerita, berbagi pengalamannya yang sudah 7 tahun menekuni dunia mode fashion muslim.

“Lahirnya Alur Cerita berawal dari keresahan pribadi sebagai muslimah untuk menghadirkan busana syar’i yang sesuai syariat namun tetap stylish,” ungkapnya.

Ternyata tantangan yang dihadapi tidak sedikit. Selain persaingan dengan brand internasional, kompetisi ketat juga terjadi di antara sesama brand lokal. Namun, Natasha menekankan pentingnya kolaborasi antarsesama pelaku industri untuk menciptakan ekosistem yang sehat.

“Tantangan lain adalah daya beli masyarakat yang cenderung melemah. Namun, Alur Cerita bertahan dengan mengedepankan nilai, narasi, dan kedekatan komunitas. Bagi kami, brand bukan hanya soal produk, tetapi juga identitas dan cerita yang melekat di dalamnya,” ujarnya.

Untuk menjaga konsistensi, Natasha memanfaatkan platform digital, program afiliasi, serta komunitas loyal sebagai kekuatan utama. “Teknologi membuka jalan bagi brand untuk memperluas pasar, namun kunci keberhasilan tetap terletak pada konsistensi dan integritas dalam menjalankan bisnis sesuai prinsip syariah,” tandasnya. (hap)