
JAKARTA, PMP – Guntur Soekarnoputra ternyata pernah dibujuk menjadi Menteri Muda Urusan Pemuda di Kabinet Pembangunan III Presiden Soeharto, setelah Golkar menang di Pemilu 1977. Tawaran atau lebih tepatnya bujukan kepada Guntur disampaikan oleh Pangkopkamtib Sudomo atas perintah langsung Presiden Soeharto.
Sementara itu pada awal September 1993, Erros Djarot telah menyanggupi penugasan Guruh Soekarnoputra untuk berjuang memenangkan adiknya, Megawati Soekarnoputri, yang didukung ratusan cabang PDI untuk menjadi Ketua Umum PDI menggantikan Soerjadi melalui Kongres Luar Biasa (KLB) PDI di Asrama Haji Sukolilo Surabaya yang akan digelar pada 1-6 Desember 1993.
Baca juga : Guntur Soekarnoputra Tugaskan Erros Dampingi Megawati Melawan Orde Baru (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 1)
KLB PDI Surabaya digelar atas skenario rezim Orde Baru untuk mendongkel Soerjadi yang dinilai telah “mbalelo” karena perolehan suara PDI pada dua Pemilu (1987 dan 1992) terus meningkat drastis. Pada Pemilu 1992, PDI memperoleh 56 kursi atau naik 16 kursi dari Pemilu 1987 yang hanya 40 kursi. Perolehan kursi pada dua Pemilu di masa kepemimpinan Soerjadi itu signifikan, karena pada Pemilu 1982 saat PDI dipimpin Sunawar Sukowati hanyalah 24 kursi.
Kenaikan suara secara signifikan itu bisa terjadi, karena Soerjadi dengan cerdik menggandeng Megawati Soekarnoputri untuk menjadi calon legislatif PDI pada Pemilu 1987. Megawati yang membawa nama Presiden Soekarno diharap bakal menarik suara dari barisan Banteng dan para pecinta Bung Karno, dan strategi itu ternyata manjur. Strategi dilanjutkan Soerjadi dengan menggandeng Guruh Soekarnoputra pada Pemilu 1992. Strategi yang sukses menambah jumlah kursi PDI itu rupanya membuat gusar Orde Baru yang kemudian merekayasa agar Soerjadi terdongkel dari pucuk pimpinan PDI melalui KLB PDI di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.
“Seusai merampungkan kerja keredaksian, malam itu juga benak saya dipenuhi berbagai masalah berkaitan dengan tugas yang baru saya terima dari Mas Tok (sapaan Guntur). Setelah DëTIK sepenuhnya telah rampung dicetak, saya pun pulang ke rumah. Pada malam itu, semalaman pikiran saya tak juga mau berhenti bekerja. Sekali pun telah tenggelam dalam keheningan larut malam yang cukup melelahkan, tak sedikit pun muncul keinginan masuk ke kamar, berbaring di atas kasur dan tidur menyusul Dewi, istri saya, yang telah lelap tertidur. Entah kenapa pikiran saya dihujani berbagai peristiwa kilas balik yang erat berkaitan dengan apa yang beberapa jam lalu dimintakan Mas Tok kepada saya,” tulis Erros dalam Autobiografi Erros Djarot jilid 1.
Menentang Fusi 1973 Ala Rezim Orde Baru
Setelah melakukan kilas balik menelusuri sejumlah pertemuan dengan Mas Tok yang saya ingat, barulah saya menemukan alasan kuat mengapa Mas Tok menugaskan saya untuk mendampingi Mbak Mega. Saya memahami kecemasan Mas Tok itu.
Saya bisa mengerti dan memahami setelah pengembaraan pikiran saya tertuju pada peristiwa di pertengahan tahun 1970-an, di rumah Mas Tok yang waktu itu masih berlokasi di daerah Cempaka Putih, Jakarta Timur. Di rumah itulah sebuah peristiwa bersejarah saya saksikan. Di siang itu, untuk pertama kalinya keluarga Bung Karno menyampaikan kepada publik secara terbuka sikap politik keluarga Bung Karno dalam hiruk pikuknya kehidupan di lingkaran dunia politik Orde Baru.
Peristiwa bersejarah itu muncul kembali dalam kegamangan malam, karena begitu melekatnya kejadian itu dalam benak ini. Saya masih ingat betul pada siang itu, saya datang bersama Guruh Soekarnoputra ke rumah kediaman Mas Guntur.
Bagi kami berdua, Mas Guntur atau Mas Tok merupakan sosok figur di keluarga anak-anak Bung Karno, sebagai yang paling dituakan dan didengar omongannya. Sejak saya dan Guruh sering berkomunikasi ketika dia kuliah di Belanda dan saya mahasiswa di Jerman, sekitar tahun 1972-1974, nama Mas Guntur sering menjadi bahan perbincangan kami sekitar politik kaum Banteng ke depan. Persahabatan saya dengan Guruh menjadi semakin akrab karena saya menempatkan Mas Guntur sebagai senior yang saya sangat hormati.
Itulah sebabnya mengapa ketika saya mendapat tugas dari Mas Tok untuk mendampingi Megawati, sejumlah kenangan yang terekam dalam benak saya bermunculan, termasuk ingatan saya pada suatu siang yang sangat bersejarah saat datang ke rumah Mas Tok bersama Guruh Soekarnoputra.
Baca juga : Erros Djarot Rilis Autobiografi, Raih Penghargaan Rekor MURI
Siang itu, kedatangan kami di rumah Mas Tok sempat disambut seorang balita gempal yang sangat sehat, putri tunggal pasangan Mas Guntur dan Mbak Heny, Puti yang nama lengkapnya Sri Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarnoputri. Berambut cepak, berpenampilan tomboi, namun tampak cantik, secantik ibunya yang semasa remaja pernah dinobatkan sebagai juara lomba kebaya se-Provinsi Jawa Barat. Harus saya akui, Mas Guntur cukup jeli dan pandai memilih. Mungkin memang sudah garis gennya begitu. Bedanya, Bung Karno memilih untuk melebarkan pintu banyak pilihan, sedangkan Mas Guntur menjatuhkan hanya kepada satu pilihan, lewat satu pintu. Dalam hal setia dan suami yang baik, Mas Guntur-lah juaranya.
Pada siang itu, ada hal sangat penting yang tengah dirancang oleh putra sulung Bung Karno ini. Itulah sebabnya kami datang menemui Mas Tok. Seingat saya, hadir pula saat itu Bang Lingga, almarhum, putra Tapanuli sahabat dekat, teman sekerja sekaligus orang kepercayaan Mas Tok.
Mas Tok memang tengah mempersiapkan sebuah sikap politik dalam bentuk “pernyataan politik” keluarga Bung Karno. Pernyataan sikap dan pernyataan politik ini, berkaitan dengan upaya memperjelas dan mempertegas posisi politik keluarga Bung Karno dalam hiruk pikuk politik yang sangat Orde Baru sentris. Pernyataan politik yang dirancang oleh Mas Guntur ini, tentunya didorong oleh ketidaksetujuan terhadap langkah politik Ali Moertopo dan Pak Harto yang menghadirkan desain politik fusi partai-partai versi rezim Orde Baru.
Pada tahun 1973, dilakukan penyederhanaan partai. Dari sekian banyak partai menjadi hanya tiga institusi partai—organisasi politik di level nasional. Terdiri dari dua partai, Partai Demokrasi Indonesia (PDI) yang merupakan fusi dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Musyawarah Rakyat Banyak (MURBA), Partai Kristen Indonesia (PARKINDO), Partai Katolik, dan Partai Ikatan Pendukung Kemedekaan Indonesia (IPKI).
Organisasi politik dalam bentuk partai yang lain adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan fusi dari Partai Nahdlatul Ulama (NU), Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII), dan Partai Muslimin Indonesia (PARMUSI). Partai ini adalah gabungan dari sejumlah partai yang bernaung di bawah panji-panji Islam.
Organisasi politik yang ketiga adalah Golkar. Khusus untuk yang satu ini diperkenalkan bukan sebagai partai politik, tapi sebagai organisasi dengan sebutan Golongan Karya yang orientasinya adalah kekaryaan. Namun dalam praktik, Golkar diposisikan oleh rezim Orde Baru sebagai kendaraan politik penguasa. Golkar pun mendominasi dan menguasai sepenuhnya dunia perpolitikan di Indonesia pada era rezim Orde Baru. Presiden Soeharto memposisikan diri sebagai Ketua Dewan Pembinanya.

Ketidaksetujuan Mas Tok terhadap langkah politik rezim Orde Baru yang memaksa PNI harus menjadi bagian dari fusi, atau penggabungan lima partai ala politikus militer Orde Baru yaitu Soeharto-Ali Moertopo, sangat bisa saya pahami. Bahkan saya pun sangat setuju atas sikap politik Mas Tok yang menganggap politik fusi Orde Baru ini tujuan utamanya hanya untuk mengebiri, mengecilkan PNI dan para pendukung, maupun barisan Bung Karno.
Mas Guntur tahu, bahwa berdasarkan catatan sejarah, lahirnya Golkar tidak terlepas dari gagasan awal dari tiga tokoh pendiri bangsa, yaitu Bung Karno, Soepomo, dan Ki Hajar Dewantoro. Tiga tokoh ini sejak tahun 1940 bersetuju atas gagasan integralistik Soepomo, yaitu perlu dihadirkannya golongan fungsional sebagai organisasi massa rakyat yang terdiri dari berbagai golongan. Keterwakilan massa rakyat dari berbagai golongan tidak harus semata dilimpahkan dan diserahkan kepada partai-partai, sebagaimana konsep “barat”. Penamaan golongan fungsional ini, pada tahun 1959 diubah berdasarkan inspirasi Bahasa Sansekerta menjadi Golongan Karya.
Guntur Dibujuk Jadi Menteri Kabinet Pembangunan III
Penolakan dan sikap yang sama sekali tak menyetujui politik fusi partai-partai ala Orde Baru gagasan Ali Moertopo dan Pak Harto ini, dimanifestasikan oleh Mas Tok melalui sikap dan langkah politik yang tegas, jelas, dan konsisten. Saya masih ingat betul bagaimana di siang itu, wajah Mas Tok tampak serius dan bersungut-sungut ketika kami menyoal tawaran yang datang dari penguasa rezim untuk Mas Tok.
Kami menyoal ajakan, lebih tepatnya bujukan, yang meminta Mas Tok agar bersedia menerima jabatan sebagai Menteri Muda Urusan Pemuda dalam kabinet yang akan diumumkan Pak Harto, pascakemenangan Golkar pada Pemilu 1977. Pak Sudomo sendiri melalui pembicaraan telepon, yang langsung menyampaikan permintaan itu kepada Mas Tok. Menurut Pak Sudomo, permintaan itu datangnya langsung dari Pak Harto.
Saya, Guruh, dan Bang Lingga, duduk di sofa ruang tamu kediamannya, mendengarkan uraian Mas Tok dengan penuh rasa ingin tahu lebih jauh, langkah apa yang akan diambil Mas Tok, karena ajakan menjadi menteri seperti yang ditawarkan kepada Mas Tok, biasanya sangat menggiurkan dan kebanyakan diterima oleh para aktivis maupun politisi muda saat itu.
Saya yang ingin cepat tahu bagaimana jawaban Mas Tok, langsung bertanya. “Jadinya gimana Mas? Mas Tok terima?”
“Kamu ngeledek ya? Kamu kira aku ini sudah nggak waras? Otak dan pikiranku masih sehat Ros. Yang bener aja..!”
“Nah, itu baru anak Bung Karno. Setuju!” Acungan jempol pun saya tujukan ke arahnya.
“Emangnya kamu sempet berpikir Mas Tok mau menerima ya?”
“Ya kan siapa tahu?”
“Sedikit saja kamu sempat berpikir Mas Tok mau, berarti kamu gak kenal aku, dan itu pemikiran yang ahistoris, Ros. Aku ini masih Guntur Soekarnoputra!”
Baca juga : Erros Djarot Beberkan Strateginya Jadikan Megawati Wapres Lewat Autobiografi 2 dan 3
Mendengar pernyataan yang keluar dari mulut senior saya ini, dada langsung terasa melebar dan melapang, rasa hormat saya sebagai juniornya pun kian melambung.
“Makanya, aku mau buat pernyataan sikap politik keluarga Bung Karno. Intinya penegasan sikap politik keluarga Bung Karno, bahwa dalam situasi yang seperti sekarang ini, keluarga Bung Karno tidak ke mana-mana dan tidak di mana-mana. Tidak ke PDI, PPP, apalagi Golkar. Sikap itu yang Mas Tok mau sebarluaskan ke media, sebagai jawaban Mas Tok ke Pak Harto!’’
Setelah memberi penjelasan yang panjang mengapa sikap itu diambil, Mas Tok pun menyuruh saya dan Bang Lingga untuk menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk membuat pernyataan sikap keluarga Bung Karno sesuai arahan Mas Tok. Setumpuk kertas dan sebuah mesin ketik pun kami siapkan. Melalui beberapa arahan dan diskusi yang serius, akhirnya pernyataan sikap keluarga Bung Karno rampung dan siap disebarluaskan.
Sejak saat itulah, Mas Tok yang tegas bersikap untuk berdiri merdeka di atas pijakan ideologi Marhaenisme dengan pandangan hidup Pancasila, membuat saya menganggap Mas Tok memang sangat pantas untuk saya hormati sebagai senior dan panutan politik saya saat itu.
Sejak pernyataan sikap politiknya itu, Mas Tok pun mengambil jarak yang pasti terhadap eksistensi ketiga partai, PDI, PPP, dan Golkar. Ketiga organisasi politik ini, menurut Mas Tok, merupakan organisasi politik “made in” rezim Orde Baru. Dari ketegasan sikap politik Mas Tok ini, yang saya baca, Mas Tok mencoba bertahan untuk tetap berdiri di atas pijakan ideologi, garis politik, dan cita-cita perjuangan Partai Nasional Indonesia (PNI) 1927.
Mega Harus Tetap Tegak Berdiri Sebagai Marhaenis
Terus terang, saya sendiri heran, mengapa peristiwa ketika Mas Tok mengeluarkan sikap politik keluarga, dan penugasan Mas Tok untuk saya menemui Theo, tiba-tiba saja datang kembali dalam ingatan? Seperti adegan dalam pemutaran ulang video, yang dengan sangat detail menampilkan adegan demi adegan yang terjadi saat itu.
Hal ini terjadi setelah beberapa saat Mas Tok usai menugaskan saya untuk mendampingi Megawati, yang bersiap maju dicalonkan sebagai Ketua Umum PDI. Bahkan saat pulang menuju rumah pun, di sepanjang jalan, kedua peristiwa penting yang datang tiba-tiba di ruang ingatan ini, saya renungkan dan pelajari dengan baik. Akhirnya saya simpulkan bahwa dua peristiwa flashback itu berkorelasi sangat erat dengan penegasan sikap politik seorang Guntur Soekarnoputra yang harus saya cerna dengan baik.
Terbaca, saya ditugaskan Mas Tok mendampingi Mega, adiknya tercinta, sepenuhnya karena didorong oleh kekhawatiran yang tinggi. Mas Tok sangat berharap agar Mega, walaupun harus terjun ke dunia politik yang sarat dengan permainan politik Orde Baru, Mega harus tetap tegak berdiri sebagai seorang Marhaenis. Sebagai politisi anyar di PDI, partai “made in” rezim Orde Baru, Marhaenisme ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno yang selalu diajarkan kepada putra -putrinya, jangan sampai terbius dan mati oleh opium politik Orde Baru. Bahkan lebih jauh lagi, jangan sampai yang terjadi malah Mega akan bersekutu dan menjadi politisi yang menjauhi dan mengubur Marhaenisme, dalam perjalanannya sebagai politisi.
Karena itulah mungkin, Mas Tok memerlukan hadirnya seseorang yang bisa ia percaya untuk mendampingi Mega. Begitu kira-kira pesan dan amanat Mas Tok yang saya bisa tangkap, saat saya akhirnya bersedia menerima tugas tersebut dengan senang hati.
Bagi kami, dalam komunitas kader Banteng, tugas dan kepercayaan dari seorang senior yang dihormati kepada juniornya, merupakan suatu kehormatan. Maka saya pun, sambil menarik nafas panjang disertai ucapan mantap dalam hati, “Bismillah,” tugas dari Mas Tok pun saya terima dengan sepenuh hati yang saya maknai sebagai kebanggaan tersendiri. (Kukuh Bhimo Nugroho)
*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.












