
JAKARTA, PMP – Doa dan dukungan keluarga merupakan modal utama Erros Djarot sebelum mengibarkan bendera berjuang mendampingi Megawati Soekarnoputri melawan rezim Orde Baru Presiden Soeharto, sebagaimana tugas yang diamanatkan Guntur Soekarnoputra atau Mas Tok.
Pada awal September 1993, Erros (43) pun meminta restu dari istrinya Dewi Trijati Surianegara Djarot (39) dan dua anaknya, Banyu Biru dan Sekar Putih atau Bebe, yang saat itu baru berusia 14 tahun dan 9 tahun.
Baca juga : Guntur Tugaskan Erros Dampingi Megawati Soekarnoputri Melawan Orde Baru (Autobiografi Erros Djarot – Eps. 1)
Erros menulis kisah awal perjuangannya menjadi barisan oposisi rezim Orde Baru dalam buku Autobiografi Erros Djarot jilid 1 yang diterbitkan pada September 2025. Berikut nukilan naskahnya :
Keesokan harinya, sehari setelah mendapat penugasan dari Mas Tok untuk mendampingi adiknya, apa yang saya alami ini saya ceritakan kepada Dewi, istri saya. Bagi saya, Dewi bukan hanya sekedar istri, tapi dia adalah kawan sejati dalam membicarakan hal-hal kehidupan yang perlu pembahasan serius. Apalagi yang berkaitan dengan masalah politik.
Kampus Tiga Presiden Perancis
Dewi adalah seorang doktor dan mantan dosen di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Apalagi dulu, pada saat awal saya mengenalnya, ia adalah mahasiswi jurusan politik di Sciences Po, Paris, Perancis, mengikuti jejak ayahnya, Ambasador Ilen Surianegara, orang Indonesia pertama yang bersekolah di Sciences Po.
Sekolah ini sangat bergengsi dan dikenal luas di kalangan para akademisi di Perancis. Tiga presiden Perancis, masing-masing Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy, dan Francois Mitterrand, serta beberapa pemimpin Perancis lainnya, juga menimba ilmu di Perguruan Tinggi Politik Sciences Po ini.
Ketika saya berdialog dengan Dewi ini, mendengar argumentasi dan pandangan-pandangannya, entah kenapa, tiba-tiba saya jadi ingat pada pertemuan saat kami pacaran, dengan masih dalam status sebagai mahasiswa di luar negeri. Peristiwa itu datang kembali dalam ingatan. Saat itu kami sempat merancang masa depan, dan satu hal yang saya hormati adalah keputusan yang kemudian dia ambil.

Hanya Dewi yang mengetahui bahwa ketertarikan saya di dunia politik begitu besar dan mendalam. Ia pun kemudian saat itu memutuskan untuk mengubah jurusan studi, dari jurusan politik ke jurusan hukum. Dia menganggap dunia politik praktis lebih baik diberikannya kepada saya.
Bahkan ia merancang untuk berkonsentrasi mempertebal pundi-pundi ekonomi keluarga, karena ia tidak ingin melihat saya terjerumus pada praktik korupsi hanya dikarenakan tuntutan memenuhi kebutuhan keluarga. Suatu keputusan yang bijak dan sangat realistis. Keputusan ini ia ambil setelah ia yakini, sayalah calon suami pilihannya.
Menurutnya, masa depan itu harus dirancang. Itulah Dewi, perempuan cerdas yang tahu apa yang ia mau, dan yang ia akan capai dan ia tuju. Walau konsentrasi membangun karier masa depannya secara drastis mengalami perubahan, bidang keilmuan yang pernah ia tekuni tidak dibuang begitu saja.
Pengetahuannya di bidang politik masih sangat prima dan luas. Itulah sebabnya saya memerlukan nasihat, pemikiran, dan pandangannya terhadap penugasan yang baru saja saya terima dari Mas Tok, yaitu mendampingi Megawati.
Jangan Ketularan Penyakit Politik Mereka
Satu hal yang mengejutkan, saat saya ceritakan apa adanya, Dewi merespons dengan penerimaan yang jauh dari sikap negatif. Ia yang biasanya agak skeptis terhadap kualitas dunia politik dan politisi Indonesia yang menurutnya masih sangat perlu untuk ditingkatkan mutunya, saat itu justru lebih bersikap bersahabat.
Tidak seperti ketika saya kabarkan masuknya saya sebagai anggota pendiri Litbang PDI di awal tahun 1980-an. Reaksi wajahnya terkesan kurang memberi lampu hijau sepenuhnya. Berbeda dengan siang itu, ia membuka dialog yang sangat membesarkan hati saya.
“Kang…,” begitu ia menyapa saya dengan panggilan hangatnya.
“Sejak umur belasan tahun, Akang kan sudah menggeluti dunia itu. Mungkin Kang, ini saat untuk melakukan perfeksi. Asal jangan ketularan penyakit politik mereka!”
“Maksud kamu?”
“Nggak perlu jadi binatang politik. Dari dulu yang kita perjuangkan kan nilai. Akang yang harus nularin mereka, bukan malah Akang yang ketularan jadi binatang politik. Orientasi dan tujuan sebagai politisi harus tetap negarawanlah. Itu baru excelent dan membanggakan.’’
Kata-katanya ini sampai sekarang masih tetap saya pegang dalam kehidupan di dunia politik di negeri ini. Percakapan saat itu adalah prasasti Dewi dan saya yang telah saya abadikan dengan tanda tangan yang melekat di hati, batin, dan pikiran saya, sampai sekarang.
Lebih Mengenal Taufiq Kiemas
“Akang sudah kenal siapa Mbak Mega?’’
Pertanyaan ini meluncur dari mulutnya begitu tiba-tiba. Saya pun terkaget-kaget dan terpaksa merespons dengan apa adanya.
“Terus terang Dew, saya lebih kenal Bu Fatmawati, Guruh, dan Mas Tok, juga Sukma. Saya kan pernah kurang lebih tiga tahun, dari tahun 1975 sampai 1977, setiap liburan ke Indonesia tinggalnya di Jalan Sriwijaya No. 26, rumah Bu Fat.
Di sana waktu itu tinggal Guruh, Sukma dan suami pertamanya, Jiwo Mangkunegoro. Ya, sedikit mengenal Rachma-lah, karena kita seumur, sering jumpa, dan sering berdebat. Tapi tentang Mbak Mega, sejujurnya saya tidak terlalu tahu.” Memang begitulah adanya, karena Mbak Mega tiga tahun lebih tua dari saya.
“Sama suaminya? Mas Taufiq?”
“Kalau Mas Taufiq saya lebih mengenalnya. Cukup baik hubungan saya sama Mas Taufiq. Sangat akrab saat saya memimpin komisi politik pada Kongres III PDI tahun 1986 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Kenapa nanyanya kok detail banget?”
“Saya tanya Kang, karena yang saya dengar, mereka itu walau bersaudara tapi mempunyai kepribadian masing-masing yang kuat, berdiri di atas nilai-nilai pribadinya sendiri. Tapi yah…, Akang mungkin yang lebih tahulah.”
Terus terang rentetan pertanyaan Dewi ini merupakan early warning, peringatan awal bagi saya agar pandai-pandai menempatkan dan memerankan diri dalam sirkel budaya kehidupan di keluarga anak-anak Bung Karno. Mungkin telaah Dewi ini disimpulkan dari beberapa kali dia berjumpa Guruh, dengan segala romantika dan dinamika kehidupannya sebagai anak bungsu dari lima bersaudara putra-putri pasangan Bung Karno dan Ibu Fatmawati.
Apapun yang dipertanyakan dan disampaikan Dewi saat itu, merupakan peristiwa yang masih melekat dalam ingatan saya.
Sekar Tahu Opung Dipenjara Pak Hato
Siang itu saya sungguh merasa lega. Percakapan yang melegakan ini pun saya tutup dengan memanggil kedua anak saya, Banyu Biru dan Sekar Putih. Kepada kedua anak saya, apa yang saya sampaikan kepada ibunya, saya sampaikan juga kepada mereka.
Sekar saat itu masih terlalu kecil untuk merespons. Hanya dari wajah Banyu saya baca ada semacam ekspresi protes, tampak kurang merelakan. Karena saat itu, Banyu sendiri memang sudah begitu merasa sangat lama tak dapat bercanda, berdekatan seperti saat kami dulu masih hidup di luar negeri.
Hubungan kami sangat akrab, dekat, bersahabat. Namun belakangan, Banyu telah lama menyimpan rasa kesal karena waktu kami berdua untuk bermain telah hilang direnggut oleh kesibukan saya bersama komunitas tabloid DëTIK.
Memang hampir seluruh waktu saya tersita untuk berkosentrasi di seputar urusan DëTIK bersama para aktivis kampus, siang dan malam. Termasuk urusan politik gerakan bersama kawan-kawan prodemokrasi, seperti bersama Gus Dur dan Marsillam Simanjuntak, para alumni GMNI, para fungsionaris PDI, dan lain-lain.
Namun setelah penjelasan panjang, akhirnya Banyu merelakan juga dan memberikan dukungan sepenuhnya. Sedangkan Sekar yang masih kecil hanya mengajukan satu persyaratan yang selalu saya ingat, “Pokoknya Bapak nggak boleh dipenjara!”
Permintaan yang mengagetkan ini mungkin didapat dari kedekatannya dengan Opung Sitor Situmorang. Sekar tahu Opung pernah dipenjara Pak Harto. Begitu juga dengan Haryanto Taslam yang sempat juga ia ketahui pernah dipenjara oleh rezim Orde Baru.
Ketakutan anak kecil yang khawatir akan keselamatan ayahnya ini, ternyata membuat dan menjadikan saya selalu berusaha bertindak cerdas, dalam posisi saya sebagai politisi yang berada di barisan oposisi terhadap rezim Orde Baru.
Pertemuan penting di siang itu pun, kami akhiri dengan pelukan bersama sekaligus teriring pinta restu dan doa mereka agar lembaran baru perjalanan politik saya akan bisa menjadi kebanggaan keluarga.
Support mereka merupakan suatu hal yang sangat saya perlukan. Tanpa support dari mereka, saya yakini perjalanan yang akan saya lakukan pasti akan terasa pincang dan gamang. Karena merekalah sumber energi bagi tegaknya langkah saya ke depan, sebagai politisi yang berada di barisan oposisi rezim Orde Baru.
Berziarah ke Pusara Ibu dan Bapak
Sebagai bekal restu pamungkas, saya pun menyempatkan diri beziarah ke kuburan ibu saya di pemakaman Bintaro. Kemudian berziarah ke pusara bapak di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Kebetulan Pakde Sigit, kakak bapak juga dimakamkan di TMP Kalibata. Ziarah saya lakukan terhadap keduanya, dan sejak hari itu “pintu gerbang” meniti perjalanan ke depan, saya nyatakan sudah saya buka dengan penuh kesiapan.
Sedangkan besok dan seterusnya adalah saat-saat pengisian dan pemaknaan yang akan saya lakukan setiap harinya. Setiap langkah yang saya ayunkan haruslah semata untuk mewujudkan harapan membangun Indonesia yang lebih baik.
Sebagaimana harapan dan amanat para perintis kemerdekaan, para pendiri bangsa dan negeriku, Indonesia. Oleh karenanya, Bung Karno, Bung Hatta, Ki Hajar Dewantoro, K.H. Agus Salim, Sjahrir, Tan Malaka, dan para perintis kemerdekaan lainnya, saya tempatkan dan saya jadikan mereka sebagai obor penyuluh penuntun setiap langkah saya ke depan dalam berjuang membangun Indonesia, sebagaimana harapan dan cita-cita kemerdekaan 17 Agustus 1945. (Kukuh Bhimo Nugroho)
*Naskah ini dinukil dari buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1 yang terbit September 2025. Buku “Autobiografi Erros Djarot” jilid 1, jilid 2, jilid 3, dan “Erros Djarot Apa Kata Sahabat”, bisa dibeli melalui link berikut : Budaya Cerdas.












